ILMU AKHLAK : IKHLAS DAN RIYA

 A.    IKHLAS

1.      Definisi Ikhlas

Ikhlas berasal dari kata khalish[1] artinya bersih, tidak ada campuran, diibaratkan emas murni. Sedangkan menurut Al-Junaid “ikhlas adalah membersihkan perbuatan dari kotoran".  Lawan dari ikhlas yaitu ‘isyrak’ artinya berserikat atau bercampur dengan yang lain.[2]

Ikhlas bersumber dari hati. Bilamana seseorang berniat melakukan suatu pekerjaan, maka mulailah dari hati dengan ikhlas. Ikhlas tidak dapat dipisahkan dengan shiddiq (benar/jujur) yang biasa kita sebut dengan tulus. Sebab itu, selalu orang berkata ‘tulus ikhlas’, dan ketulusan itu bukanlah di lidah saja, karena lidah mudah berputar, yang penting ialah ketulusan hati dan ikhlas. Lain dengan orang yang mulutnya mengaku benar, tetapi hatinya berdusta, maka dia dalam golongan pendusta juga. Sulitnya mewujudkan ikhlas, dikarenakan hati manusia selalu berbolak-balik. Setan selalu menggoda, menghiasi dan memberikan perasaan was-was ke dalam hati manusia, serta adanya dorongan hawa nafsu yang selalu menyuruh berbuat jelek. Karena itu kita diperintahkan berlindung dari godaan setan.

Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Nasa’i dari Abi Umamah :

         اِنَّ اللهَ تَعَا لى لاَ يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ اِلاَّ مَا كَاَ نَ لَهُ خَالِصًا,

  وَابْتُغِىَ بِه وَجْهُهُ. (رواه النسائ عن ابي امامة)

Artinya “sesungguhnya Allah swt. tidak menerima amal, kecuali amal yang tulus ikhlas dan mencari keridhaan Allah” (Hadits riwayat Nasa’i dari Abi Umamah).

Masalah ikhlas merupakan masalah yang sulit, sehingga sedikit sekali perbuatan yang dikatakan murni ikhlas karena Allah. Dan sedikit sekali orang yang memperhatikannya, kecuali orang yang mendapatkan taufiq (pertolongan dan kemudahan) dari Allah. Adapun orang yang lalai dalam masalah ikhlas ini, ia akan senantiasa melihat pada nilai kebaikan yang pernah dilakukannya, padahal pada hari kiamat kelak, perbuatannya itu justru menjadi keburukan.

Menurut Ibn Ujaibah, terdapat tiga tingkatan dalam ikhlas[3]antara lain :

1)      Ikhlas orang awam,adalah mengesampingkan makhluk dari muamalah dengan Tuhan, seraya memohon ganjaran duniawi dan ukhrawi, seperti pemeliharaan badan, harta, rezeki yang luas, dan rumah,

2)      Ikhlas khawwash adalah memohon ganjaran ukhrawi tanpa dunia,

3)      Ikhlas khawwash al-khawwas adalah mengesampingkan kedua jenis ganjaran di atas.

 

2.      Macam-macam Ikhlas

Macam- macam ikhlas dintaranya yaitu[4]:

a.       Ikhlas kepada Allah

Bersungguh-sunguh beramal ikhlas karena Allah, akan mendorong seseorang melakukan ibadah karena taat kepada perintah Allah dan menjauhi segala larangan Allah serta jangan durhaka kepada-Nya apabila ingin selamat di dunia dan di akhirat, dan mengharap ganjaran dari Allah.

Berkata Muhammad bin Sa’id Al-Merwazi: “segala kejadian itu hanyalah bersumber kepada dua : Perbuatan Allah atas diri engkau, dan perbuatan engkau yang akan dihadapkan kepada Allah. Maka hendaklah rela menerima segala perbuatanNya dan ikhlas mengerjakan segala perbuatan engkau terhadapNya. Dengan demikian engkau beroleh kebahagiaan dunia akhirat”.

 Firman Allah swt dalam surah An-Nisa’ : 146

 اِلاَّالَّذِيْنَ تَا بُوْ وَاَصْلَحُوْا وَاعْتَصَمُوْا بِاللهِ وَاَخْلَصُوْا دِيْنَهُمْ لِلهِ.

 (النساء: ١٤٦ )

Artinya “Melainkan orang yang taubat dan memperbaiki dirinya berpegang dengan Allah saja dan ikhlas agamanya karena Allah” (QS.An-Nisa’:146)

b.      Ikhlas kepada Kitab Allah

Bersungguh-sungguh bahwa kitab itu adalah Kalamullah, yang tiada serupa dengan kalam makhluk. Tidak seorangpun yang sanggup membuat kitab semacam itu (Kalamullah), diturunkan Allah kepada RasulNya untuk menjadi tuntunan manusia.

Kita junjung dan kita sucikan, kita perhatikan dengan hati yang khusyu’. Kita baca dengan fasih, dengan huruf yang bermakhraj dan bertajwid. Kita fahami isi dan maksudnya.

c.       Ikhlas kepada Rasulullah saw

Mengakui dengan sungguh-sungguh risalahnya, percaya segala yang dibawanya, taat mengikut apa yang diperintahkannya, membela di waktu hidupnya dan terus sampai mati. Pegang teguh ilmu yang ditinggalkannya, karena dia diutus ke dunia menyempurnakan budi pekerti serta adab.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim :

  لاَيُؤْمِنُ اَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُوْنَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ اَحَبَّ اِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا

  (رواه البخاري و مسلم)

Artinya “tidaklah beriman seorang kamu hingga adalah Allah dan RasulNya lebih dicintainya daripada yang lain” (HR. Bukhori dan Muslim)

Mencintai Rasul hendak pula mencintai sahabat-sahabatnya dan kaum keluarganya. Jangan membedakan derajatnya masing-masing.

d.      Ikhlas kepada Imam KaumMuslimin

Ikhlas kepada Imam atau raja-raja dan pemerintahan Muslimin, yaitu dengan jalan membela dalam kebenaran, taat kepada mereka di dalam agama, ikut perintahnya dan hentikan larangannya. Jangan sekali-kali melanggar undang-undang, jangan mengkacaukan keamanan dalam negeri. Jika mereka salah, peringatkan dengan cara yang sopan santun. Beritahu kelalaian mereka dan bahaya mengancam negerinya lantaran kesalahan dari mereka. Ajaklah kaum Muslimin lainnya supaya taat kepada perintah itu.

Tentu saja tidak boleh taat jika pemerintahan itu mengajak mengerjakan kemungkaran, dan tidak boleh diikuti kalau Ulama menunjukan fatwa yang sesat. Tetapi selagi mereka mendirikan keadilan, wajiblah diikuti perintahnya. Dan apabila telah melanggar hak orang banyak, wajiblah dia dijatuhkan.[5]

 

B.     RIYA’

 

1.      Definisi Riya’

Riya’ berasal dari kata ru’yah yang artinya melihat.[6] Riya’ pada dasarnya mencari kedudukan di hati manusia dengan memperlihatkan kepada mereka beberapa kebajikan. Riya’ biasa kita kenal dengan sebutan pamer. Orang yang riya’ atau pamer tidak akan mendapat apa-apa kecuali pujian dari orang lain tersebut, kelak di akhirat akan mendapat balasan dari Allah. . Na’udzu billahi min dzaalik.

Al-Ghazali mengartikan riya’ dengan upaya menggaet perhatian manusia untuk mendapat posisi di mata masyarakat dengan bertopeng ibadah atau dengan amal selain ibadah.[7]

Ketahuilah, bahwa riya’ adalah haram, dan yang memiliki sifat ini sangat dibenci oleh Allah swt. hal itu ditunjukkan dalam firman Allah :

   فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَ . اَلَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلاَ تِهِمْ سَاهُوْنَ . اَلَّذِيْنَ هُمْ يُرَاءُوْنَ .

  (الماعون : ٤-٦)

Artinya “maka celakalah bagi orang-orang yang sholat. (Yaitu) mereka yang lalai terhadap sholatnya. Yaitu orang-orang yang berbuat riya’”. (QS. Al-Ma’un : 4-6)

Riya’ adalah syirik kecil, demikianlah ungkapan yang dikemukakan Rasulullah SAW dalam salah satu haditsnya yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam musnadnya, Rasulullah saw bersabda :

 إ
نَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ اْلأَصْغَرُ، قَالُوْا وَمَا الشِّرْكُ اْلأَصْغَرُ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ الرِّيَاءُ، يَقُوْلُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ اذْهَبُوْا إِلَى الَّذِيْ تُرَاءُوْنَ فِي الدُّنْيَا هَلْ تَجِدُوْنَ عِنْدَهُمُ الْجَزَاءَ (رواه أحمد)

“Sesungguhnya sesuatu yang paling aku takutkan terjadi pada kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Apa itu syirik kecil wahai Rasulullah SAW?”, Beliau menjawab, “Riya.! Dan Allah akan berkata pada hari kiamat, terhadap mereka-meeka yang riya, ‘pergilah kalian kepada orang-orang yang dahulu di dunia kalian riya’, apakah kalian mendapatkan ganjaran dari mereka?” (HR. Ahmad)
.

 

2.      Ciri-ciri Riya’

Ciri orang yang bersifat riya’[8] adalah sebagai berikut :

·         Tidak akan melakukan perbuatan baik apabila tidak dilihat orang dan dipuji orang,

·         Amal atau perbuatan baik yang dia lakukan sering diungkit-ungkit atau disebut-sebut,

·         Giat beribadah jika disorot mata orang banyak, dan malas-malasan ketika sendirian,

·         Bangga bila prestasinya dipamerkan kepada khalayak umum,

·         Terlihat tekun dan bertambah motivasinya jika mendapat pujian dan sanjungan, sebaliknya semangat akan turun jika dicela orang.

 

3.      Macam-macam Riya’

Riya’ sangat banyak macamnya[9], diantaranya :

                                i.            Riya’ Badani (Fisik)

Para ahli agama biasanya menampakkan badannya yang kurus dan pucat, agar mereka dilihat oleh orang banyak bahwa mereka adalah orang yang rajin beribadah dan memberikan asumsi bahwa mereka sangat disibukkan dengan urusan akhirat.

Sebaliknya para ahli dunia biasanya menampakkan badannya yang gemuk dan sehat, ketegapan dalam berdiri dan kebersihan badan untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa mereka adalah orang-orang yang pintar.

Mereka ini adalah orang yang dikatakan Allah seperti dalam FirmanNya :

   وَاِذَا رَاَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ اَجْسَا مُهُمْ وَاِنْ يَقُوْ لُوْا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْكَاَنَّهُمْ خُشُبٌ

  مُسَنَّدَةٌ يَحْسِبُوْنَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ هُمُ الْعَدُوُّفَاحْذَرْهُمْ قَا تَلَهُمْ اللهُ اَنَّى

  يُؤْفَكُوْنَ (المنفقون : ٤ )

“Dan Apabila kamu melihat mereka, tubuh tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan mereka. Mereka adalah seakan akan kayu yang tersandar. Mereka mengira tiap tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka, mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka, semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran).” (Al Munafiqun : 4)

                              ii.            Riya’dalam Berpakaian

Para penganut agama, mereka memakai pakaian sufi yang terkesan sangat kumal untuk menunjukkan kezuhudan mereka. Sebagian dari merekamemakai pakaian khusus agar orang lain menyebutnya sebagai ulama. Sehingga orang lain beranggapan mereka adalah sang ulama.

                            iii.            Riya’ dalam Perkataan

Para ahli agama, riya’ mereka terlihat pada hafalan Al Qur’an ataupun hadits, karena ingin bergaul dan berdiskusi dengan para ulama dan mengibuli orang orang bodoh, sehingga mereka merasa bahwa merekalah orang yang lebih tinggi kedudukannya dimata manusia.

Merendahkan dan mengeraskan suara ketika membaca Al Qur’an untuk menunjukkan ketakutan atau kekhawatiran dan kegelisahan dan lain sebagainya, juga merupakan bagian dari riya’. Wallahu a’lam.

Para ahli dunia, riya’ mereka terlihat dengan menghafal bait-bait syair, kata mutiara, mendalami tata bahasa dan sastra dalam percakapan dan terus menerus terlibat dalam pembicaraan.

 

                            iv.            Riya’ dalam Amal Perbuatan

Para ahli agama melakukan riya’ seperti orang shalat yang memperpanjang waktu berdiri, memperpanjang ruku’ dan sujud, memperlihatkan ke khusu’an dan ketundukan, dan memperindah shalatnya kalau mengetahui bahwa ada orang yang sedang memperhatikannya.

Adapun ahli dunia melakukan riya’ dengan sikap arogansi, kesombongan, mendekatkan langkah, memperindah pakaian untuk mendapatkan kehormatan yang mereka dambakan.

4.      Cara Mencegah dari Perbuatan Riya’

Perbuatan riya’ dapat dicegah dengan cara[10], diantaranya :

a)      Hindari beramal di depan orang. Ada sebagian orang yang memang tidak mampu menahan diri ketika amalnya dilihat oleh orang lain dan bergaya dermawan padahal aslinya pelit, bergaya santun padahal aslinya badung, entah lambat atau cepat orang tersebut pasti akan ketahuan danamal yang penuh kepura-puraan akan mudah sekali ketahuan orang lain.

b)      Sering-seringlah belajar melakukan sedekah sirri yaitu sedekah dengan cara rahasia. Misalnya memberi makan fakir miskin tanpa menyebut nama, bersedekah pada saat sepi atau yang semacamnya. Untuk bisa melakukan sedekah sirri sudah pasti kita harus merasa cukup agar amal yang kita lakukan untuk orang lain benar-benar ikhlas.

c)      Ingatlah bahwa Allah tidak melihat seberapa banyak amal yang kita lakukan. Yang dilihat oleh Allah adalah seberapa baik amal yang kita kerjakan. Amal yang baik adalah amal berdasarkan QS. Al-Mulk : 2, sedangkan ibadah yang baik adalah ibadah semata-semata hanya karena Allah SWT.

d)     Banyak berdo’a dan merasa takut dari perbuatan riya’. Barangsiapa yang takut terhadap suatu perkara dan selalu khawatir akan terjadinya perkara itu maka dia akan selamat. Oleh karenanya jika seseorang ingin menghilangkan keinginannya untuk mendapatkan pujian dan sanjungan maka hendaknya ia mengingat sendiri akan bahaya riya’, dan mengemukakan bahayanya. Maka keinginan itu akan membantunya terlepas dari belenggu bahaya. Karena mengetahui adanya sanjungan manusia berpengaruh kepada syahwat dan mengetahui bahaya riya’ akan berpengaruh pada ketidaksukaan.

e)      Berusaha untuk tidak menceritakan kebaikan yang kita amalkan kepada orang lain, kecuali dalam keadaan darurat. Seperti, bila orang berpuasa yang bertamu, kemudian dijamu. Boleh baginya mengatakan bahwa ia dalam keadaan berpuasa.

 



[1] Al-Ghazali, Mutiara Ihya’ ‘Ulumuddin cet. IX, (Bandung: Mizan, 2000), hal.390

[2] HAMKA, Tasauf Moderen, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1998), hal.127

[3] Moh. Toriqqudin, Sekularitas Tasawuf cet.I, (Malang, UIN-Malang Press, 2008), hal.88

[4] HAMKA, Op.Cit., hal.132-135

[5]HAMKA, Op.Cit. 135-136                                                                       

[6] Al-Ghazali, Op.Cit., hal.285

[7] Abu Yasid, Fikih Today Fikih Tasawuf, (Jakarta, Erlangga, 2010), hal.91

[8] Abu Yasid, Ibid, hal.90-94

Komentar