AWAL KELAHIRAN FILSAFAT MODERN
AWAL KELAHIRAN FILSAFAT MODERN
Di abad ke-15 belum begitu lama kita meninggalkan pengandaian kuno bahwa pengetahuan itu mengatasi sejarah. Dengan pengandaian itu, fisafat dibicarakan seolah-olah lepas dari perjuangan hidup dan mati manusia dalam sejarah. Zaman berubah dan bentuk-bentuk filsafat pun berubah, bukannya tanpa kaitan dengan perubahan praktik-praktik baru dalam kehidupan bermasyarakat. Itu pula yang terjadi dalam filsafat modern.
Filsafat modern tidak bisa kita fahami
dengan vaccum, sebab filsafat,
betapapun murni dan transedentalnya, dihasilkan oleh para pemikir yang hidup
dalam semangat zaman tertentu. Apa yang kemudian kita kenal sebagi filsafat
modern ini dirintis dalam beberapa tahapan zaman yang diwarnai oleh
gerakan-gerakan sosial-politis yang sangat kritis terhadap zaman sebelumnya.
1.
Periode yang Disebut “ZAMAN MODERN”
Istilah ‘modern’ berasal dari kata Latin
‘moderna’ yang artinya ‘sekarang’,
’baru’, atau ‘saat kini’(Jerman; Jetztzeit). Banyak ahli sejarah menyepakati
bahwa sekitar tahun 1500 adalah tahun kelahiran zaman modern di Eropa. Olek
karena itu, ‘modernitas’ bukan hanya menunjuk pada periode, melainkan juga
suatu bentuk kesadaran yang terkait dengan kebaruan (Inggris: newness).
Sebagai bentuk kesadaran, modernitas dicirikan
oleh tiga hal, yaitu :
a.
Subjektivitas,
bahwa manusia menyadari dirinya sebagai subjectum, yaitu sebagai pusat realitas
yang menjadi ukuran segala sesuatu. Sejarawan Swiss, Jacob Burckhardt, menjelaskan bagaimana manusia dalam masyarakat
abad pertengahan lebih mengenal dirinya sendiri sebagairas, rakyat, partai,
keluarga atau kolektif. Di abad ke-19, Marx,
dengan ilham dari Hegel, menegaskan
bahwa manusia adalah subjek sejarah (Jerman:
Subjekt der Geschichte), yaitu bahwa manusiatidak hanyut dipermainkan
waktu, melainkan perancang sejarahnya sendiri.
b.
Kritik,
dimaksudkan bahwa rasio tidak hanya menjadi sumber pengetahuan, melainkan juga
menjadi kemampuan praktis untuk membebaskan individu dari wewenang tradisi atau
untuk menghancurkan prasangka-prasangka yang menyesatkan. Kant merumuskan kritik sebagai keberanian untuk berpikir sendiri di
luar tuntutan tradisi atau otoritas.dia sendiri mengatakan “terbangun dari
tidur dogmatis”, yaitu kemempuan kritis rasio membuatnya bebas dari prasangka-prasangka
pemikiran tradisional.
c.
Kemajuan,
pemikiran para filsuf yang hidup mulai dari abad ke-16 ini kemudian dicirikan
sebagai “modern”, karena bukan kebetulan gerakan-gerakan sosial dan
penemuan-penemuan itu juga melahirkan pemikiran-pemikiran yang berpusat pada
manusia sebagai subjektivitas, rasio sebagai kemempuan kritis, dan sejarah sebagi
kemajuan. Dengan munculnya filsafat-filsafat yang meninggalkan ketiga tema ini
(Heidegger, Foucault, Derrida, Lyotard,
Bataille, Deleuze), orang mulai ramai membicarakan kelahiran bukan hanya
kesadaran baru, tetapi juga zaman baru: post-modern. Heidegger menyatakan kesudahan filsafat modern Dallam filsafat Nietsche.
2.
Filsafat Modern sebagai Pemberontak
Intelektual
Pemikiran abad pertengahan ditandai oleh
kesatuan, keutuhan, dan totalitas yang koheren dan sistematis yang tampil dalam
bentuk metafisika atau ontologi. Pemikiran modern lalu dapat dipahami sebagai
suatu pemberontakan terhadap alam pikir abad pertengahan itu. Sejarah filsafat
modern, bisa dilukiskan sebagai pemberontakan intelektual terus-menerus
terhadap metafisika radisional. Kita menganggap modernitas sebagai disintegrasi
intelektual. Filsafat modern lebih menampilkan dirinya sebagai anarki dan
kekacauan dari pada keutuhan dan ketertiban. Filsafat modern dalam wawasan ini,
adalah sebuah kemerosotan intelektual. Di sisi lain, menganggap filsafat modern
sebagai sebuah emansipasi sebuah kemajuan berpikir, dari kemandengan dan
pendewaan pemikiran metafisis yang mendukung sistem kekuasaan gerejawi
tradisional.
Dalam kenyataan, hancurnya metafisika
tradisional disambut gembira oleh filfuf-filsuf, seperti Nietsche, Kant, Comte dan seterusnya, dilain pihak, Hegel dan Marx ingin bahwa mengembalikan integrasi metafisis itu dari
puing-puingnya.
3.
Renaisans dan Gerakan Humanisme
Sukar sekali
menentukan bilamana zaman pertengahan berakhir,dan bilamana zaman modern
dimulai.yang jelas ialah bahwa pada abad ke-14dimulailah krisis zaman
pertengahan,yang berlangsung hingga abad ke-15,dan bahwa abadke-15 dan ke-16
dikuasai oleh suatu gerakan yang disebut Renaissance.
Istilah Reinasans (Prancis: Renaissance) artinya ‘kelahiran
kembali’. Sejak jaman Reinasans filsafat mendapat tenaga intelektualnya untuk
memberontak terhadap cara berpikir Abad Pertengahan. Oleh karena itu, penting
untuk dibahas pembentukan pemikiran-pemikiran yang sekarang yang kita sebut
‘modern’.
Warisan-warisan kebudayaan Yunani dan
Romawi Kuno dipelajari lagi oleh para cendekiawan yang pada zaman itu disebut
‘kaum humanis’. Petrarkha (1304-1374) merupakan kaum humanis yang menyanggah
pendapat Agustinus dalam bukunya yang
berjudul Secret yang begitu terobsesi
dengan perkara-perkara surgawi dengan menekankan pentingnya nikmat duniawi yang
sudah pasti bagi manusia.
Gerakan humanisme ditandai dengan :
a)
Kepercayaan
akan kemampuan manusia,
b)
Hasrat
intelektual,
c)
Penghargaan
akan disiplin intelektual, dan
d)
Menekankan
pentingnya perubahan sosial, politik dan ekonomi.
Perbedaan pemikiran
filsafati abad pertengahan dan pemikiran filsafati renaissance adalah sebagai
berikut :
4.
Reformasi dan Pengaruhnya atas
Filsafat
Raenaisans dan Reformasi dipandang sebagai
gerakan-gerakan yang sejalan, yang sama-sama melahirkan masyarakat modern. Jika
Renaisans dan Reformasi pada pasukan yang sama untuk menghancurkan sistem
kekuasaan Abad Pertengahan.terdapat perbedaan diantara keduanya, yaitu pada
pemahaman subjektivitas modern rasional. Sehingga member pengaruh yang berbeda
terhadap filsafat modern, yaitu tentang kebebasan manusia.
Akhirnya, Reformasi mendorong tumbuhnya
etika filosofis atas dasar suara hati rasional sebagai ganti moralitas Abad
Pertengahan yang didasarkan pada ajaran-ajaran objektif.
Komentar
Posting Komentar